Libatkan Mahasiswa Dalam Diskusi Ilmiah
Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya gelar Diskusi Ilmiah bertema Bullying, Kamis, (4/7). Dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Psikologi lintas angkatan, diskusi ini diselenggarakan di Meeting Room Gedung Graha Wiyata lantai 1. Turut hadir adalam diskusi tersebut Wakil Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya- Dra. Tatik Meiyuntariningsih, M.Kes., Psikolog. “Saat ini bullying sudah banyak terjadi. Di zaman yang modern ini, sudah bukan zamannya bullying frontal. Perkembangan zaman melahirkan e-bullying. Bullying bukan hanya terjadi di sekolah, bisa saja di rumah atau lingkungan di luar sekolah. Jadi kita semua harus berhati-hati, bisa saja guyonan kita justru menjadi bullying yang berdampak bagi psikis orang lain,” tutur Tatik saat membuka diskusi.
Banyaknya kasus bullying di Indonesia, menurut Sayidah Aulia’ul Haque, S.Psi., M.Psi., Psikolog menjadikan kita perlu membicarakan hal ini. Dia mengatakan, “Bullying termasuk ke dalam kejahatan karena berniat menyakiti orang lain. Baik berupa psikis atau yang terparah hingga menghilangkan nyawa orang lain. Bullying bisa saja dilakukan berulang kali, terjadi secara langsung dan tidak langsung. Bullying secara langsung berupa verbal dan fisik. Sedangkan bullying tidak langsung bisa dengan menjadikan teman dijauhi.”
Rahma Kusumandari, S.Psi., M.Psi., Psikolog tampil sebagai pembicara. “Hasil survey menunjukkan bahwa tokoh utama pelaku bullying di sekolah hanya segelintir siswa (2-5%), tapi kenapa permasalahan ini belum selesai dan malah mengalami peningkatan?” katanya saat membuka sesi diskusi. Lebih lanjut dia menjelaskan, “Karena 95-98% siswa belum menunjukkan upaya untuk mencegah bullying melihat, diam, tidak melapor bahkan tidak melawan. Frekuensi kejadian kekerasan cenderung tidak terekam oleh guru atau pihak sekolah karena bullying dapat terjadi secara terang-terangan maupun secara tersembunyi.”
Dijelaskan oleh Rahma bahwa perilaku bullying terjadi karena adanya power imbalance yaitu ketidakseimbangan kekuatan/kekuasaan baik secara fisik maupun psikologis, sengaja menyakiti dan dilakukan secara berulang. Menurutnya pendekatan di Psikologi menjelaskan bahwa anak seperti selembar kertas putih, artinya karakter dibentuk oleh lingkungan. “Bullying terjadi karena berbagai faktor/aspek di antaranya adalah pengasingan aspek ekonomi, kurangnya bimbingan ortu akibat broken family, manajemen kelas dan kurikulum yang tidak relevan, konflik sosial atau karena kurang mampu berkomunikasi.” Dia menutup sesi diskusi dengan menerangkan upaya intervensi bullying, “Intervensi preventif dapat dilakukan dengan memahami perilaku bullying, menerima kelebihan individu, menghargai perbedaan dan berempati. Adapun bagi korban harus melatih ketrampilan sosial, memahami diri sendiri, membangun keterampilan sosial dalam membangun interaksi sosial yang positif.” (um/aep)
Comments
Post a Comment